<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5909392</id><updated>2011-05-25T15:38:18.674+08:00</updated><title type='text'>..........................</title><subtitle type='html'>Seseorang yang sangat sulit untuk direduksi dalam sebuah definisi yang kadang kejam, menindas sebuah essensi kemanusiaan, mengambil hak Allah SWT yang Maha Tahu definisi.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://arep.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5909392/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arep.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>nurk</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>8</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5909392.post-106682862915692324</id><published>2003-10-22T21:16:00.000+08:00</published><updated>2003-10-22T21:17:09.046+08:00</updated><title type='text'>coba post</title><content type='html'>qetwgfgegeeeeee&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5909392-106682862915692324?l=arep.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5909392/posts/default/106682862915692324'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5909392/posts/default/106682862915692324'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arep.blogspot.com/2003_10_01_archive.html#106682862915692324' title='coba post'/><author><name>nurk</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5909392.post-106562079612004641</id><published>2003-10-08T21:46:00.000+08:00</published><updated>2003-10-08T21:46:35.650+08:00</updated><title type='text'>arep</title><content type='html'>&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5909392-106562079612004641?l=arep.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5909392/posts/default/106562079612004641'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5909392/posts/default/106562079612004641'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arep.blogspot.com/2003_10_01_archive.html#106562079612004641' title='arep'/><author><name>nurk</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5909392.post-106553446371149928</id><published>2003-10-07T21:47:00.000+08:00</published><updated>2003-10-07T21:47:43.233+08:00</updated><title type='text'>Teroris dan Islam Militan</title><content type='html'>Senin, 11 Agustus 2003&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Nuim Hidayat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai peledakan Hotel JW Marriot (5 Agustus 2003), kembali masalah teroris mengemuka dalam perbincangan di media massa. Sayangnya, banyak media massa (dan beberapa pejabat) yang menggandengkan dan menggiring pembaca untuk memahami definisi teroris sebagai Islam Militan/Islam Fundamentalis. Media massa juga terkadang tidak mau rumit-rumit memahami latar belakang kejadian terorisme dan siapa teroris yang sebenarnya (the biggest terrorist).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mantan Presiden Amerika Serikat Richard Nixon dalam bukunya Seize The Moment menyebut lima ciri kaum fundamentalis Islam, yaitu, (1) mereka yang bertekad untuk mengembalikan peradaban Islam, (2) mereka yang berkeras menerapkan syariat Islam, (3) mereka yang menyatakan Islam adalah agama dan negara, (4) mereka yang bersikap keras terhadap Barat, (5) mereka yang menjadikan masa silam sebagai petunjuk dan pelajaran masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila definisinya seperti di atas, maka banyak kaum Muslimin di dunia ini masuk dalam barisan kaum Islam Militan: kelompok Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, jamaah salafiyah, partai-partai Islam, dan lain-lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum konfrontasionis&lt;br /&gt;Stigmatisasi terhadap Islam itu, selain dilakukan media massa Barat juga dilakukan oleh banyak intelektual Barat. Francis Fukuyama di Newsweek menyatakan musuh bersama umat manusia adalah "Islam Radikal". Ia menyatakan: Radical Islamist, intolerant of all diversity and dissent, have become the fascists of our day. That is we are fighting againts.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebencian banyak tokoh Barat terhadap Islam Militan (sering juga disebut Islam saja), memang terjadi sejak lama. "Islam adalah agama palsu, Allah bukanlah Tuhan, Muhammad bukan seorang Nabi, Islam dikarang oleh orang-orang yang berniat dan berwatak buruk, serta didukung kekuatan pedang," ujar sejarawan Inggris, Albert Hourani. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang Crusader pada abad ke-13 menyatakan: "Islam diawali dengan pedang, dipertahankan dengan pedang dan dengan pedanglah akan diakhiri." Sedangkan cendekiawan Prancis Maxime Rodinson menyatakan: "Umat Kristen di Barat mempersepsi dunia Muslim sebagai bahaya, jauh sebelum Islam dilihat sebagai masalah nyata."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa intelektual Barat juga mempropagandakan Islam itu kaku, totaliter, dan tidak demokratis. Samuel Huntington misalnya, menyimpulkan Islam secara intrinsik adalah non demokratis. Fawaz A Gerges, profesor di Sarah Lawrence College AS, mengungkap ilmuwan AS lainnya yang masuk dalam "intelektual konfrontasionis" (terhadap Islam) adalah Charles Krauthamer. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum intelek konfrontasionis ini menganggap bahwa pertarungan antara Islam dan Barat tidak hanya pada kepentingan politik dan materi, tapi merupakan benturan kebudayaan dan peradaban. Islam dinyatakan akan menggantikan komunisme sebagai ancaman utama pasca perang dingin. "The new threat is as evil as the Old Evil Empire," kata Krauthammer. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebijakan pemerintah AS yang "paranoid" terhadap kaum Islamis ini nampaknya juga dipengaruhi oleh sebagian pandangan warganegaranya (apalagi setelah kasus WTC). Pada 1990, sebuah polling yang ditujukan ke warga Amerika yang plural, menghasilkan pandangan terhadap Islam yang "negatif".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Polling itu menyimpulkan: "Orang-orang Muslim cenderung fanatik dan agama Islam adalah agama yang anti demokrasi." Poling ini dilaksanakan oleh Survey Roper (Juli 1993), koran Los Angeles Times (1993), survey bersama antara American Muslim Council dan Zogby Group (1993), Gallup (Oktober 1994), dan Survey American Arab Institute (1995). Dengan kata lain, bagi rakyat Amerika (non Islam), Islam dilihat sebagai sebuah kebudayaan yang antagonis dan sebagai sebuah ancaman bagi kepentingan dan nilai-nilai kebudayaan mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut penulis Israel Haim Baram, sejak hancurnya Uni Soviet dan komunisme, pemimpin-pemimpin Israel telah mengusulkan kepada AS dan Eropa untuk berperang melawan Islam fundamentalis. Awal 1992, Presiden Israel Herzog di depan parlemennya menyatakan : "Penyakit (Islam Fundamentalis) sedang menyebar secara cepat dan merupakan sebuah bahaya tidak hanya untuk masyarakat Yahudi, tapi juga bagi kemanusiaan secara umum." (The Guardian, 19 Juni 1992).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kunjungan-kunjungannya ke AS, PM Yitzak Rabin seringkali menggunakan istilah "bahaya Islam" (Islamic Peril) untuk menyakinkan warga Amerika bahwa Iran adalah sama bahayanya dengan Moskow di waktu lalu. Begitu juga mantan PM Shimon Peres menyatakan : "Setelah tumbangnya komunisme, fundamentalisme telah menjadi bahaya paling besar di kita." Peres juga menyebut ancaman fundamentalisme Islam itu seperti perang melawan setan Nazisme dan komunisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum Islamis&lt;br /&gt;AS -- karena kezalimannya di dunia Islam memang saat ini sedang ketakutan dengan kaum Islamis (Islam Militan). Sebab, kelompok inilah yang dicurigai AS akan memberikan perlawanan terhadapnya. Di Irak, Afghanistan, Palestina, Moro, dan dunia Islam lainnya, AS kewalahan dalam menghadapi perlawanan kaum Islamis. Selain melakukan penyerangan fisik kepada kaum Islamis itu, AS juga melakukan strategi untuk membuat stigmatisasi (pencitraburukan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa WTC, 11 September 2001, adalah momen yang empuk bagi AS untuk memburu Islam Militan di seluruh dunia. Dengan dalih melawan terorisme, maka dunia menyaksikan dengan kasat mata bagaimana AS berkonspirasi dengan pemerintah-pemerintah negara lain untuk menangkapi tokoh-tokoh Islam. Seringkali penangkapan atau penghukuman terhadap tokoh-tokoh itu tidak dilandasi dengan bukti-bukti yang kuat di pengadilan (ingat kamp sadis tawanan AS di Guantanamo). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus Bom Bali dan Hotel JW Marriot di Indonesia, semakin menjepit pemerintah Indonesia memerangi terorisme. Pemerintah-pemerintah negara di dunia (yang penakut) seringkali membebek saja kepada petuah Bush: "You are with us, or you are with the terrorist." Definisi teroris yang harusnya di tiap negara punya definisinya sendiri pun dipaksakan AS menjadi: "teroris adalah siapa yang disebut AS sebagai teroris."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehari usai peledakan bom di Hotel JW Marriot, Harian The Straits Times, menyatakan bahwa seorang anggota JI mengaku bertanggung jawab. "Ini pesan kepadanya dan kepada para musuh kami, bila mereka mengeksekusi siapapun dari Muslim kami, kami akan melanjutkan serangan teror di Indonesia dan di kawasan ini," ujar operator JI, seperti dikutip The Straits Times. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menlu Australia, Alexander Downer juga mengungkapkan kemungkinan dilancarkan serangan baru oleh "kelompok militan" yang berkaitan dengan Alqaidah. Jadi, terlihat ingin dirunutkan di sini antara teroris, JI, dan Islam Militan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggandengan kata Usamah bin Ladin dengan Islam Militan terlepas pro kontra soal Osama juga sering dilakukan oleh media-media Barat. Di antaranya Kantor Berita Associated Press, 2 Maret 2001 lalu menyatakan: "The world's most wanted Islamic militant, Usamah bin Ladin, has applauded the bombing of the USS Cole, describing the US Destroyer as a ship of injustice that sailed to 'its doom."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juni 2002 lalu, tokoh senior Singapura, Lee Kuan Yew juga sengaja memparalelkan antara ancaman teroris dan Islam Militan. Ia menakut-nakuti pemerintah Indonesia dengan menyatakan bahwa Indonesia sarang Islam Militan, Muslim Militan di Asia Tenggara sedang berkomplot menggulingkan pemerintah dan mendesak AS agar membantu militer Indonesia, karena hanya militer yang dapat menumpas Muslim Militan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal Islam Militan, menurut intelektual AS (intelektual akomodasionis), John L Esposito, lebih sebagai tantangan daripada ancaman. Esposito menyarankan agar AS jangan main hantam kromo terhadap Islam Militan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menyayangkan standar ganda pemerintah AS. "Pemerintah Amerika (seperti medianya) tidak menyamakan aksi-aksi pemimpin atau kelompok ekstremis Yahudi dan Kristen dengan Yudaisme dan Kristianitas secara keseluruhan, apakah itu pemboman atas klinik aborsi, pembantaian atas kaum Muslim yang sedang sholat di Mesjid Hebron, atau kebijakan pembantaian etnis Serbia (Kristen) di Bosnia. Pemerintah Amerika juga tidak mengutuk perpaduan agama dan politik di Israel, Polandia, Eropa Timur, atau Amerika Latin. Bila berkenaan dengan Islam, Amerika segera saja mengutuk."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan terhadap masyarakat yang menginginkan penerapan hukum Islam beda dengan Nixon, Huntington, dan lain-lain Esposito menyarankan: "Amerika Serikat pada prinsipnya tidak boleh keberatan kalau hukum Islam diterapkan atau aktivis Islam terlibat dalam pemerintah. Para pelaku dan kelompok politik yang berorientasi Islam supaya dinilai sama dengan pemimpin potensial atau partai oposisi lainnya." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, Mantan Presiden Middle East Study Association (MESA) ini menyarankan: "Menyamakan begitu saja Islam dan Fundamentalisme Islam dengan ekstremisme, berarti menilai Islam hanya berdasarkan mereka yang melakukan kerusakan, suatu standar yang tidak diberlakukan pada Yudaisme dan Kristianitas. Ketakutan akan fundamentalisme menciptakan iklim dimana kaum Muslim dan organisasi Islam dianggap bersalah sampai terbukti bahwa mereka tidak bersalah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa Pasca Sarjana UI Program Kajian Timur Tengah dan Islam &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5909392-106553446371149928?l=arep.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5909392/posts/default/106553446371149928'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5909392/posts/default/106553446371149928'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arep.blogspot.com/2003_10_01_archive.html#106553446371149928' title='Teroris dan Islam Militan'/><author><name>nurk</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5909392.post-106553430382315824</id><published>2003-10-07T21:45:00.000+08:00</published><updated>2003-10-07T21:45:03.376+08:00</updated><title type='text'>Mengembangkan Islam yang Moderat</title><content type='html'>Jumat, 15 Agustus 2003&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Ahmad Fuad Fanani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena keberagamaan umat dewasa ini mengalami pendulum yang sangat berwarna-warni. Di satu sisi, tampak banyak yang menekankan keberagamaan yang lebih pada aspek formal dan tekstual. Di sisi lain, tampak juga yang lebih bercorak liberal dan kontekstual. Kedua model ini acapkali tidak menemukan titik temu dan bahkan tidak jarang terjadi konflik yang menegangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberagamaan formal tidak jarang melahirkan radikalisme keagamaan yang akhir-akhir ini banyak mencuat ke permukaan. Menurut kelompok ini, mereka yang berada di luar kelompoknya dianggap sebagai musuh dan tidak benar. Untuk merebut wilayah kebenaran ini, tidak jarang mereka melakukan tindakan kekerasan dan perlawanan fisik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kriteria kebenaran menurut mereka adalah semua ajaran kehidupan dan keagamaan yang dikembalikan langsung ke Alquran dan hadis. Dan ukurannya adalah apa yang tercantum dalam hadist dan Alquran secara tertulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok yang berada di luar kalangannya dianggap bukan golongan yang mendasarkan keyakinan, pikiran, dan tindakannya berdasarkan kedua warisan Rasulullah itu. Mereka maknai jihad hanya sebagai bentuk perjuangan fisik ketika menghadapi musuh-musuh Islam. Dan semua orang di luar agama Islam dan madzhabnya dianggap sebagai musuh yang harus diimankan dan dijadikan pengikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan keberagamaan liberal menganggap, bahwa semua urusan agama adalah masuk wilayah privat seseorang. Persoalan pemahaman keagamaan, keyakinan, dan tindakan seseorang asalkan tidak merugikan orang lain dan menghargai kebebasan, mutlak untuk diakomodasi dan ditumbuhsuburkan. Kalangan liberal yang di Indonesia akhir-akhir ini muncul, kadangkala juga menganggap, bahwa pandangan agama seperti yang mereka anutlah yang paling benar, sedangkan yang lain harus dibenarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemaknaan mereka terhadap kedua warisan Nabi Muhammad itu, dilakukan dengan menyesuaikan diri dengan ijtihad kontekstual. Menurut mereka, teks adalah sesuatu yang otonom dan bebas untuk ditafsirkan oleh siapapun, berdasarkan kepentingan apapun, dan harus disesuaikan dengan kondisi di manapun. Mereka menolak homogenisasi penafsiran keagamaan dan lebih menekankan pada pluralitas dan kontinuitas keberagamaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang, mereka terjebak pada penekanan pada substansi keagamaan dan meninggalkan ritus-ritus keagamaan beserta simbol-simbol yang mengiringinya. Dalam keberagamaan model ini, keislaman seringkali hanya menjadi identitas individu yang tidak mempunyai ikatan solidaritas kebersamaan pada kelompoknya. Mereka juga kadangkala kurang memiliki kepekaan terhadap perjuangan politik umat, wacana sentris, bersifat elitis, dan kurang memiliki dampak nyata pada proses pembelaan masyarakat kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posisi lain&lt;br /&gt;Sebetulnya, ada satu corak lagi keberagamaan yang kurang diperhitungkan. Hal itu lebih karena posisinya yang berada di tengah-tengah dan dianggap tidak jelas pendiriannya. Keberagamaan ini menurut penulis bisa dikategorikan sebagai keberagamaan yang bersifat moderat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kelompok ini, ajaran Islam haruslah dilaksanakan sebaik mungkin menurut syariat Rasulullah, sedangkan proses pemahaman keagamaannya dan keberagamaannya tidaklah harus senantiasa bersifat liberal ataupun formal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, pemahaman dan keberagamaan haruslah senantiasa diperbarui, dilakukan pembacaan ulang, disesuaikan dengan konteks keadaaan, dan dirumuskan tujuannya juga untuk pembelaan kemanusiaan. Jadi, keberagamaan model ini berusaha untuk membela Tuhan dan membela manusia sekaligus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberagamaan yang sejati bukanlah keberagamaan yang berhenti pada pemunculan wacana-wacana penafsiran semata. Keberagamaan haruslah menyentuh dua aras sekaligus, wacana dan praktik, keilahian dan kemanusiaan, serta individu dan sosial. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya, menurut kalangan ini, teks yang ada dalam Alquran haruslah ditafsirkan dengan mempertimbangkan tiga hal sekaligus, yaitu: akal, sejarah kemunculan teks tersebut, dan realitas sosial pada masa sekarang (Moeslim Abdurrahman, 1997). Dengan begitu, teks agama tidak hanya sebatas menjadi teks yang mati atau teks yang bebas dari kepentingan sang penafsirnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posisi akal dalam penafsiran mutlak diperlukan, sebab dengan akal-lah manusia dapat berkreativitas, membuat produk-produk baru, dan mengevaluasi hasil-hasil ciptaan masa lalu. Dengan akal pula, manusia betul-betul memfungsikan dirinya sebagai khalifatullah fil ardhi yang tidak hanya membeo pada fenomena alam. Namun, manusia mengubah, memperbaiki, dan mengubur peradaban-peradaban yang telah usang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan sejarah kemuculan teks agama mutlak diperhatikan juga. Dengan perhatian hal ini, manusia akan mengetahui altar kemunculan sebuah peristiwa yang menyebabkan sebuah firman ketuhanan dan ajaran kenabian muncul ke permukaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latar belakang kemunculan teks ini, juga menjadi sebuah alternatif pertimbangan, apakah sebuah firman ketuhanan atau ajaran kenabian pantas dicontoh secara mutlak pada masa sekarang, ataukah perlu dilakukan modifikasi sesuai dengan tantangan-tantangan zaman yang senantiasa berubah. Altar masa lalu ini juga bisa menyebabkan manusia bisa mengarifi perubahan dan penciptaan sebuah perdaban yang multiguna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan realitas masa kini mutlak dimunculkan dalam sebuah penafsiran, sebab hal itu akan menjadikan manusia menjadi terbuka pandangannya terhadap apa yang mendesak dilakukan segera. Realitas sosial juga menjadi alat bantu yang signifikan untuk menjadikan manusia sebagai agen-agen pelaku perubahan sosial yang tidak absurd. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun mereka sebagai pelaku perubahan yang berkesadaran masa lalu dan sekaligus berdimensi ketuhanan. Sebab, sebuah teks agama yang hanya bertumpu pada akal dan masa lalu tanpa berdampak nyata pada realitas sosial, sama artinya dengan teori-teori matematis yang mekanistik dan jauh dari kebutuhan umat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain ketiga hal di atas, penafsiran sebuah teks keagamaan harus juga dibebani oleh muatan idologi. Sebab, semua ilmu pengetahuan pada dasarnya tidak ada yang bebas dari ideologi. Dan ideologi yang dikembangkan tentu saja hendaknya idologi yang menekankan pada kritik dan konstruksi pembacaan yang berdimensi pada pembelaan kemanusiaan (Ali Syariati, 1993). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan begitu, kita tidak hanya bersibuk-sibuk ria dengan produksi wacana yang jauh dari kebutuhan umat yang semakin terhimpit problem sosial, ekonomi, maupun budaya akibat perilaku penguasa dan petuah tokoh agama yang sering melegitimasinya. Teks agama harus senantiasa didekatkan pada kebutuhan praksis umat dan pembaruan pemikiran dalam era global ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran Muhammadiyah &lt;br /&gt;Optimisme Muhammadiyah sebagai pelopor keberagamaan yang moderat pernah diungkap oleh Robert W. Hefner. Menurutnya, dengan posisi dan jaringannya yang luas di Indonesia dan luar negeri, Muhammadiyah telah banyak melakukan investasi untuk pengembangan demokrasi dan tradisi penciptaan sumber daya manusia yang mumpuni di masa depan (Civil Islam, 2001). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan begitu, posisi Muhammadiyah layak dijadikan sandaran sebagai agen civil Islam yang tangguh. Terlebih lagi, dengan kuantitas lembaga pendidikan dan amal usaha yang dimilikinya, maka harapan itu tentu tidak semata sebuah isapan jempol belaka. Muhammadiyah tidak hanya sibuk menyuarakan wacana pembaruan pemikiran keagamaan, namun juga terjun langsung untuk mempraktikkan keberagamaannya dalam kancah pemberdayaan umat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, analisis Hefner di atas tentu saja jangan menjadikan Muhammadiyah puas dengan keadaannya sekarang ini. Sebab, saat ini sering terlihat bahwa sebagian lapisan bawah dan menengah Muhammadiyah sesungguhnya masih banyak yang keberagamaannya kurang moderat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka seringkali masih menganggap bahwa merekalah yang paling baik dan unggul dalam segala hal dan merasa masuk surga. Hal itu tentu berakibat pada rasa egoisitas yang menggumpal dan mempertebal rasa eklusivitas diri. Di samping itu, dari jumlah lembaga pendidikan atau pesantren dan amal usaha Muhammadiyah yang menyebar di mana-mana, terdapat catatatan akan kurangnya keseimbangan kualitas dan kuantitas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlebih lagi, lembaga-lembaga pemberdayaan umat yang pada masa KH. Ahmad Dahlan dan generasi awal Muhammadiyah betul-betul menjadi tumpuan harapan umat, saat ini sudah banyak yang terkomersialisasi oleh arus kapitalisme global yang mencengkeram di mana-mana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, menjadi tugas para aktivis, pemikir, dan pengurusnyalah untuk menjadikan Muhammadiyah kembali ke khittahnya sebagai agen pembaruan keagamaan dan pemberdayaan umat yang mencerminkan keberagamaan yang moderat, bisa bergandengan dengan NU, misalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peneliti MAARIF Institute for Culture and Humanity, Aktivis PSAP Muhammadiyah &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5909392-106553430382315824?l=arep.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5909392/posts/default/106553430382315824'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5909392/posts/default/106553430382315824'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arep.blogspot.com/2003_10_01_archive.html#106553430382315824' title='Mengembangkan Islam yang Moderat'/><author><name>nurk</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5909392.post-106553394096543192</id><published>2003-10-07T21:39:00.000+08:00</published><updated>2003-10-07T21:39:00.600+08:00</updated><title type='text'>Islam dan Problem Kemanusiaan</title><content type='html'>Jumat, 08 Agustus 2003&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Happy Susanto&lt;br /&gt;Peneliti The International Institute of Islamic Thought (IIIT) Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah menguatnya arus modernitas yang begitu deras dan kenyataan bahwa kompleksitas persoalan sosial menjadi sangat sulit untuk diterka, isu mengenai kemanusiaan menarik untuk diperbincangkan. Apalagi, semenjak Bush mengumandangkan perang melawan Irak seakan dunia tengah mengalami kehancuran sendi-sendi kemanusiaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah kita yang bertekad ingin "menghabisi" Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan atas dasar nasionalisme ternyata lebih mengedepankan kekerasan yang itu justru akan menimbulkan banyak korban kemanusiaan. Islam, sebagai agama yang hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil 'alamin) dan untuk kedamaian umat manusia merasa "ditantang" untuk mampu merespons persoalan kemanusiaan yang tengah menjadi harapan besar umat manusia pada masa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemahaman kita tentang Islam perlu dilihat menurut pembagian makna agama secara "normatif" dan "historis". Makna yang pertama lebih berorientasi pada Tuhan (teosentris) dan sifatnyapun masih sangat melangit (transenden). Asumsinya adalah apa-apa yang dilakukan manusia diproyeksikan untuk Tuhan saja. Sedangkan makna yang kedua lebih berorientasi pada manusia (humanistik), di samping untuk Tuhan juga tapi keberagamaan lebih diperuntukkan demi kemaslahatan umat manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari makna agama yang melangit diturunkan menuju makna agama yang membumi. Sehingga Islam itu menyejarah. Caranya adalah dengan menurunkan dari makna agama yang masih melangit ke dalam realitas empirik kesejarahan manusia (emanatif).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena terkait dengan historisitas (kesejarahan) manusia, maka agama bisa difungsikan sebagai agen perubahan sosial (social change) yang sangat respek dengan persoalan kemanusiaan dan keadilan. Sehingga hal demikian akan membuka ruang kebebasan manusia untuk menafsirkan kembali ajaran-ajaran agama agar mampu dikomunikasikan dengan kenyataan faktual sejarah yang sedang berkembang. Dan persoalan kemanusiaan dengan macam bentuknya adalah bagian dari konteks historis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis beranggapan bahwa pemahaman Islam bagi kebanyakan umat Islam selama ini masih berkutat pada pemaknaan agama secara normatif, sedangkan pada sisi historisnya belum dieksplorasi secara lebih mendalam. Jika pemahaman agama tidak digali pada dataran empirik-historis secara lebih mendalam maka yang terjadi adalah jarak antara agama dan kemanusiaan, dengan pemahaman bahwa "biarkan agama mengurusi Tuhan-nya, dan manusia yang berkehendak bebas mengurusi dirinya sendiri tanpa payung dan peran agama". Seharusnya, tidaklah demikian karena senyatanya -- dengan melihat pada beberapa bentuk pemahaman ajaran Islam yang humanis, jika kita mau bersikap kritis dan konstruktif pada dasarnya agama dan humanisme (ajaran kemanusiaan) bisa didialogkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Humanisme Islam &lt;br /&gt;Ajaran "humanisme universal" adalah wilayah historis yang menyangkut kesejarahan umat manusia di mana hak-haknya sering "dipasung" oleh realitas pengamalan ajaran agama --yang tidak humanis tentunya-- dan juga karena modernitas yang menggerus kepekaan kemanusiaan global. Ajaran humanisme memang muncul bersamaan dengan "rasionalisme" pada Abad Pertengahan, tapi ketika itu agama terkesan disisihkan dari ring wacana pencerahan modernisme. Sudah sejak lama ajaran humanisme terlepas dari agama karena dalam pandangan kaum humanis agama justru menyebabkan petaka kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Feuerbach melabeli ajarannya dengan "Humanisme Ateis", humanisme yang berlawanan dengan Tuhan dan agama.&lt;br /&gt;Lantas, apakah mungkin membangun sebuah konsep "Humanisme Islam" sebagai jalan untuk mendamaikan agama dan kemanusiaan? Penulis mengira hal ini bisa saja dilakukan karena secara konseptual, Islam pun memuat beberapa ajaran kemanusiaan yang belum banyak ditafsirkan secara kontekstual. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dalam kenyataan kehidupan kita sehari-hari, banyak juga terlihat orang-orang beragama yang masih memiliki kepekaan sosial dan kemanusiaan yang sangat itu, di mana hal demikian diilhami oleh ajaran Islam. Humanisme Islam berangkat dari realitas sosial dan kondisi empirik umat manusia, dan agama kemudian ditafsirkan secara kontekstual menurut kenyataan yang ada ini, sehingga terjadi proses "dialogisasi" antara teks dan realitas, antara normativitas dan historisitas. Dengan begitu ruang bagi pemenuhan kemanusiaan bisa terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Kuntowijoyo (1991), Islam adalah sebuah humanisme, yaitu agama yang sangat mementingkan manusia sebagai tujuan sentral. Beragama adalah untuk manusia juga, di samping kita melakukannya untuk memenuhi kewajiban ritual agama dari Tuhan. Fungsi transformasi agama akan membuka ruang bagi kemanusiaan yang disebabkan karena pemenuhan ajaran keislaman pada sisi pengamalan dan aksi sosial. Beriman tidak lepas dari beramal, dan ukuran keberimanan seseorang adalah sejauh mana dia mampu mengamalkan ajaran agama untuk hidup dan manusia. Usaha mentransformasikan agama menjadi kebutuhan kemanusiaan saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya agama punya peran untuk memberikan sumbangan bagi penegakan moralitas, hukum, keadilan, dan kemanusiaan. Agama di sini kemudian dipahami secara empirik bahwa ketika terjadi tindakan yang tidak manusiawi, maka agama dapat memberikan dorongan moral-substantif bahwa kenyataan demikian tidak dapat dibenarkan menurut agama. Lalu, kemungkinan memperbarui penafsiran Islam yang disesuaikan dengan konteks kemanusiaan yang bergulat menjadi perlu untuk dilakukan. Tafsiran Islam yang humanis lebih melihat kenyataan sosial daripada hanya terbelenggu oleh ajaran ideal dan normatif agama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk melihat kenyataan sosial itu, maka penafsiran Islam yang humanis perlu didekati dengan pendekatan rasional. Islam tidaklah bertolak belakang dengan pendekatan rasionalisme karena agama ini bisa dipahami secara kritis dan filosofis. Ibnu Rusyd pernah berusaha untuk mendamaikan antara filsafat dan agama. Beliau menganjurkan untuk menggunakan filsafat dalam memahami agama karena pendekatan ini sangat membantu dalam memahami agama. Celah-celah kemanusiaan bisa ditangkap dengan rasio dan akal budi manusia yang kemudian didialogkan dengan agama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama kemanusiaan &lt;br /&gt;Islam perlu dipahami secara kreatif bahwa ada dialektika antara Tuhan, manusia, dan alam. Kehidupan ini sangat terbuka sekali bagi cita-cita pencapaian kemajuan, kemanusiaan, dan keadilan, sehingga Islam bisa dipahami secara rasional dan humanis. Ketuhanan dan kemanusiaan adalah dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan karena menjadi bagian inheren dalam diri seorang muslim sejati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang muslim, dalam keberagamaannya secara berproses terus-menerus mencari hubungan yang dinamis antara bagaimana memenuhi kebaikan (kesalehan) bagi Tuhan, manusia, dan juga lingkungan alam semesta. Ukuran yang bisa dipakai adalah aspek kemaslahatan dalam ketiganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aspek kemanfaatan (al-maslahah) dalam hukum dan ajaran agama menjadi tujuan diberlakukannya sebuah bunyi teks ayat (Alquran dan hadis). Relevansi hukum agama sangat ditentukan sejauh mana agama itu merespon kenyataan dan kebutuhan manusia yang sedang terjadi. Perubahan hukum dalam Islam menjadi mungkin jika kenyataan faktualnya yang menjadi kebutuhan dan kemanfaatan bagi cita-cita kemanusiaan mengalami perubahan, alias berevolusi. Bukankah adanya hukum yang dibungkus melalui teks adalah untuk merekam kenyataan sosial yang terjadi? Dan jika kenyataannya berubah maka hukum dan penafsirannya pun bisa berubah. Artinya, hukum dan penafsiran agama itu sangat din&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5909392-106553394096543192?l=arep.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5909392/posts/default/106553394096543192'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5909392/posts/default/106553394096543192'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arep.blogspot.com/2003_10_01_archive.html#106553394096543192' title='Islam dan Problem Kemanusiaan'/><author><name>nurk</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5909392.post-106553369662812529</id><published>2003-10-07T21:34:00.000+08:00</published><updated>2003-10-07T21:34:56.320+08:00</updated><title type='text'>Mengobok-obok Alquran</title><content type='html'>Selasa, 05 Agustus 2003&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Mengobok-obok Alquran&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Adian Husaini&lt;br /&gt;Peneliti INSIST, Anggota Komisi Hubungan Antar-Agama MUI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;@Body:Buku Christoph Luxenberg (nama samaran) yang berjudul "Die Syro-Aramaeische Lesart des Koran" telah menarik banyak perhatian masyarakat Muslim, menyusul publikasinya oleh beberapa media massa. Mulanya, Newsweek edisi 28 Juli 2003, melansir tulisan berjudul "Challenging The Qur'an". Artikel yang ditulis Stefan Theil itu kemudian memicu kontroversi dan akhirnya majalah itu dilarang beredar di Pakistan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi kaum Muslim, tentu, upaya untuk meruntuhkan orisinalitas Alquran sebagai wahyu Allah, bukan barang baru. Sepeninggal Rasulullah SAW, Musailamah al-Kazhab sudah melakukan upaya itu. Di setiap zaman, upaya itu selalu dijawab secara elegan dan saintifik oleh ulama dan cendekiawan Muslim. Bagi sebagian kalangan, terutama kalangan orientalis Barat, karya Luxenberg (nama samaran) ini dipandang sebagai ancaman terhadap kajian Alquran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam analisisnya terhadap buku Luxenburg di Jurnal HUGOYE, Journal of Syriac Studies, Robert R. Phenix Jr. dan Cornelia B.&lt;br /&gt;Horn, dari University of St. Thomas, Summit Avenue St. Paul, mencatat implikasi metoda kajian filologi yang dilakukan Luxenberg terhadap Alquran. Menurut mereka, "Any future scientific study of the Qur'an will necessarily have to take this method into consideration. Even if scholars disagree with the conclusions, the philological method is robust."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa pun metodanya, kesimpulan kajian Luxenberg sebenarnya tidak terlalu beda dengan para orientalis dan misionaris Kristen yang melakukan kajian serupa tehadap Alquran. Intinya, mereka menggugat Alquran sebagai "wahyu" yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW. Bahwa Alquran adalah "tanzil", "suci", bebas dari kesalahan, sebagaimana ditegaskan dalam Alquran (QS 15:9).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Luxenberg -- dengan melakukan kajian semantik terhadap sejumlah kata dalam Alquran Arab yang diambil dari perbendaharaan bahasa Syriac -- Alquran yang ada saat ini (Mushaf Utsmani) adalah salah salin (mistranscribed) dan berbeda dengan teks aslinya. Teks asli Alquran, simpulnya, lebih mirip bahasa Aramaic, ketimbang Arab. Dan naskah asli itu telah dimusnahkan Khalifah Usman bin Affan. Dengan kata lain, Alquran yang dipegang oleh kaum Muslim saat ini, bukanlah wahyu Allah SWT, melainkan akal-akalan Utsman bin Affan RA.&lt;br /&gt;Lunxenberg - seperti banyak orientalis lainnya - mempertanyakan motivasi Utsman bin Affan melakukan kodifikasi Alquran. Ia menduga, teks Alquran yang dimusnahkan Utsman bin Affan berbeda dengan teks Mushaf Utsmani yang sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jauh, Robert R. Phenix Jr. dan Cornelia B. Horn menyatakan, jika analisis Luxenberg benar, maka isi Alquran Mushaf Utsmani secara substansi berbeda dengan Alquran di masa Nabi Muhammad SAW. Tuduhan semacam ini salah sama sekali, sebab proses kodifikasi Alquran di zaman Utsman bin Affan sangat terbuka kerjanya, dan Alquran selalu diingat oleh ratusan, ribuan -- bahkan kini jutaan kaum Muslimin. Setiap kekeliruan akan selalu dikoreksi oleh kaum Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, dalam pendahuluan bukunya, Luxenberg memaparkan signifikansi dari bahasa dan budaya Syriac bagi bangsa Arab dan Alquran. Di masa Nabi Muhammad SAW, bahasa Arab bukanlah bahasa tulis. Bahasa Syro-Aramaic atau Syriac adalah bahasa komunikasi tulis di Timur Dekat mulai abad ke-2 sampai ke-7 Masehi. Bahasa Syriac dialek Aramaic merupakan bahasa di kawasan Edessa, satu negara kota di Mesopotamia Atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa ini menjadi wahana bagi penyebaran agama Kristen dan budaya Syriac ke wilayah Asia, Malabar, dan bagian timur Cina. Sampai munculnya Alquran, bahasa Syriac adalah media komunikasi yang luas dan penyebaran budaya Arameans, Arab, dan sebagian Persia. Budaya ini telah memproduksi literatur yang sangat kaya di Timur Dekat sejak abad ke-4, sampai digantikan oleh bahasa Arab pada abad ke-7 dan ke-8 Masehi. Satu hal yang penting, menurut Luxenberg, literatur the Syriac-Aramaic dan matriks budaya ketika itu, praktis merupakan literatur dan budaya Kristen. Sebagian studi Luxenberg menyatakan, literatur Syriac yang kemudian menciptakan tradisi "Arab tulis" adalah ditransmisikan melalui media Kristen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya, Luxenberg menyimpulkan, transmisi teks Alquran dari Nabi Muhammad SAW bukanlah secara oral, sebagaimana keyakinan kaum Muslim. Alquran tak lebih dari turunan Bible dan liturgi Kristen Syria. Bahasa asli Alquran bukanlah "Arab". Sebagai contoh, nama surat al-Fatiha, berasal dari bahasa Syriac ptaxa, yang artinya pembukaan. Dalam tradisi Kristen Syria, ptaxa harus dibaca sebagai panggilan untuk berpartisipasi dalam sembahyang. Belakangan, dalam Islam, surat ini wajib dibaca dalam salat. Kata-kata lain dalam Alquran, seperti quran, jaw, hur, dan sebagainya, juga berasal dari bahasa Syriac dan disalahartikan dalam Alquran sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beda konsep&lt;br /&gt;Sebenarnya, soal banyaknya unsur bahasa Syriac dalam Alquran bukanlah hal yang aneh. Karena setiap bahasa -- apalagi bahasa serumpun, seperti Arab, Hebrew, Syriac -- akan saling menyerap, sehingga banyak mengandung kosakata yang identik. Apalagi, sebagai Nabi penutup, yang -- diibaratkan oleh Rasulullah SAW sendiri -- beliau adalah laksana "satu batu-bata yang menyempurnakan bangunan batu bata dari satu bangunan risalah kenabian". Karena itu, wajar, banyak istilah dan nama dalam Alquran yang memang terdapat pada Bible atau Taurat. Bahkan, Alquran mewajibkan kaum Muslim untuk mengimani kitab-kitab yang pernah diturunkan Allah SWT kepada para Nabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal tudingan bahwa Alquran bukanlah wahyu Allah dan hanyalah jiplakan dari orang non-Muslim, sudah disebutkan dalam Alquran: "Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata: "Sesungguhnya Alquran itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad)". Padahal, bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya, adalah bahasa 'Ajam. Sedangkan Alquran adalah dalam bahasa Arab yang terang. ('Arabiyyun mubin)." (QS 16:103).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dicermati, Alqran memang banyak menyerap istilah yang sama dengan istilah-istilah yang digunakan agama-agama sebelumnya, bahkan istilah dalam tradisi Quraish. Shaum (puasa), misalnya, jelas-jelas ditegaskan dalam Alquran (QS 2:183) merupakan kewajiban yang dibebankan kepada kaum Muslim dan umat sebelumnya. Tapi, konsep puasa dalam Islam, lain dengan konsep pada umat nabi sebelumnya. Begitu juga shalat, haji, nikah, dan sebagainya. Bahkan, sebutan "Allah" telah dikenal oleh kaum Quraish, tetapi, konsep "Allah" dalam Alquran sangat berbeda dengan konsep kaum jahiliyah Quraish.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah "haji" sudah dikenal sebelum Islam. Namun, istilah haji dalam Islam berbeda maknanya dengan "haji" sebelum Islam. Begitu juga nama-nama para Nabi. Ibrahim, Dawud, Isa, dan para Nabi lainnya, AS, dalam konsep Alquran berbeda dengan konsep nabi-nabi dalam Bible dan Taurat (yang sekarang). Misal, Alquran menggambarkan Nabi Daud AS sebagai sosok yang saleh dan kuat. Berbeda, dengan Bible (2 Samuel 11:2-27) yang menggambarkan Daud sebagai sosok yang buruk moralnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain merebut dan menzinahi istri pembantunya sendiri (Batsyeba binti Eliam), Daud juga menjebak suami si perempuan (Uria) agar terbunuh di medan perang. Sedangkan Alquran menyatakan: "Bersabarlah atas segala apa yang mereka katakan, dan ingatlah hamba Kami, Daud, yang mempunyai kekuatan. Sesungguhnya dia amat taat kepada Allah." (QS 38:17). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep Islam tentang "Isa" juga berbeda dengan konsep "Jesus" dalam Kristen, meskipun keduanya merujuk kepada figur yang sama. Bahkan, jika ada yang menyebut agama Islam, Kristen, dan Yahudi adalah rumpun "Abrahamic faith", maka konsep Ibrahim dalam Islam jelas berbeda dengan konsep Ibrahim dalam Yahudi dan Kristen. Alquran dengan tegas menyebut: "Ibrahim bukanlah Yahudi atau Nasrani, tetapi dia adalah seorang yang hanif dan Muslim, dan dia bukanlah orang musyrik." (QS 3:67).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan baru&lt;br /&gt;Jadi, jika ditemukan banyak istilah atau terminologi dalam Alquran yang sama dan identik dengan istilah dalam Bible atau tradisi sebelum Islam, bukanlah berarti Alquran menjiplak dari kitab agama lain. Sebab, salah satu fungsi Alquran adalah sebagai "parameter" dan "korektor" terhadap penyimpangan terhadap kitab sebelumnya. Alquran banyak mengingatkan terjadinya penyimpangan dan perubahan pada kitab para nabi itu (QS 4:46, 2:75, 2:79).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, kesimpulan Luxenberg, bahwa "Alquran memuat artikel tertentu dari Bible (Perjanjian Lama dan Baru) yang dibacakan dalam kebaktian Kristen", masih sangat dangkal dan sama sekali tidak meruntuhkan kewibawaan Mushaf Utsmani yang memiliki kekuatan hujjah yang kuat sebagai wahyu Allah SWT. Apalagi, kesimpulan seperti ini -- meskipun menggunakan metoda yang berbeda dengan para orientalis sebelumnya -- bukanlah barang baru dalam tradisi orientalis dan misionaris Kristen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu bisa disimak misalnya, pada buku karya Samuel M Zwemmer, misionaris Kristen terkenal di Timur Tengah, yang berjudul "Islam: A Challenge to Faith" (terbit pertama tahun 1907). Di sini, Zwemmer memberikan resep untuk "menaklukkan" dunia Islam. Zwemmer menyebut bukunya sebagai "studies on the Mohammedan religion and the needs and opportunities of the Mohammedan world from the standpoint of Christian missions".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bukunya ini, Zwemmer menulis, unsur-unsur yang dipimjam oleh Islam dari berbagai agama dan tradisi sebelumnya, seperti Sabeanism, Arabian Idolatry, Zoroastrianism, Buddhism, Judaism, dan Christianity. Termasuk yang dipinjam dari Christianity, menurut Zwemmer, adalah konsep puasa Ramadhan, cerita tentang Ashabul Kahfi, Lukman, Iskandar Zulkarnaen, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang Alquran ini, Zwemmer menyatakan: (1) penuh dengan kesalahan sejarah (2) banyak mengandung cerita fiktif yang tidak normal, (3) mengajarkan hal yang salah tentang kosmogoni (4) mengabadikan perbudakan, poligami, perceraian, intoleransi keberagamaan, pengasingan dan degradasi wanita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di akhir penjelasannya tentang Alquran, Zwemmer mencatat: "In this respect the Koran is inferior to the sacred books of ancient Egypt, India, and China, though, unlike them, it is monotheistic. It can not be compared with the Old or the New Testament." (1985:91).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangat seperti Samuel Zwemmer dalam melecehkan Alquran inilah yang tampaknya ada pada kajian Luxenberg, meskipun dengan cara yang lebih halus dan sedikit canggih. Kaum Muslim, tentu saja, perlu menelaah karya semacam ini dengan cermat, dan memberikan argumentasi yang tepat dan ilmiah terhadap setiap upaya penghancuran Alquran.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5909392-106553369662812529?l=arep.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5909392/posts/default/106553369662812529'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5909392/posts/default/106553369662812529'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arep.blogspot.com/2003_10_01_archive.html#106553369662812529' title='Mengobok-obok Alquran'/><author><name>nurk</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5909392.post-106553291974903357</id><published>2003-10-07T21:21:00.000+08:00</published><updated>2003-10-07T21:23:47.596+08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5909392-106553291974903357?l=arep.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5909392/posts/default/106553291974903357'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5909392/posts/default/106553291974903357'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arep.blogspot.com/2003_10_01_archive.html#106553291974903357' title=''/><author><name>nurk</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5909392.post-106553267253230629</id><published>2003-10-07T21:17:00.000+08:00</published><updated>2003-10-07T21:19:32.706+08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Jumat, 08 Agustus 2003.&lt;br /&gt; www.republika.co.id&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Islam dan Problem Kemanusiaan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Happy Susanto&lt;br /&gt;Peneliti The International Institute of Islamic Thought (IIIT) Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah menguatnya arus modernitas yang begitu deras dan kenyataan bahwa kompleksitas persoalan sosial menjadi sangat sulit untuk diterka, isu mengenai kemanusiaan menarik untuk diperbincangkan. Apalagi, semenjak Bush mengumandangkan perang melawan Irak seakan dunia tengah mengalami kehancuran sendi-sendi kemanusiaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah kita yang bertekad ingin "menghabisi" Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan atas dasar nasionalisme ternyata lebih mengedepankan kekerasan yang itu justru akan menimbulkan banyak korban kemanusiaan. Islam, sebagai agama yang hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil 'alamin) dan untuk kedamaian umat manusia merasa "ditantang" untuk mampu merespons persoalan kemanusiaan yang tengah menjadi harapan besar umat manusia pada masa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemahaman kita tentang Islam perlu dilihat menurut pembagian makna agama secara "normatif" dan "historis". Makna yang pertama lebih berorientasi pada Tuhan (teosentris) dan sifatnyapun masih sangat melangit (transenden). Asumsinya adalah apa-apa yang dilakukan manusia diproyeksikan untuk Tuhan saja. Sedangkan makna yang kedua lebih berorientasi pada manusia (humanistik), di samping untuk Tuhan juga tapi keberagamaan lebih diperuntukkan demi kemaslahatan umat manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari makna agama yang melangit diturunkan menuju makna agama yang membumi. Sehingga Islam itu menyejarah. Caranya adalah dengan menurunkan dari makna agama yang masih melangit ke dalam realitas empirik kesejarahan manusia (emanatif).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena terkait dengan historisitas (kesejarahan) manusia, maka agama bisa difungsikan sebagai agen perubahan sosial (social change) yang sangat respek dengan persoalan kemanusiaan dan keadilan. Sehingga hal demikian akan membuka ruang kebebasan manusia untuk menafsirkan kembali ajaran-ajaran agama agar mampu dikomunikasikan dengan kenyataan faktual sejarah yang sedang berkembang. Dan persoalan kemanusiaan dengan macam bentuknya adalah bagian dari konteks historis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis beranggapan bahwa pemahaman Islam bagi kebanyakan umat Islam selama ini masih berkutat pada pemaknaan agama secara normatif, sedangkan pada sisi historisnya belum dieksplorasi secara lebih mendalam. Jika pemahaman agama tidak digali pada dataran empirik-historis secara lebih mendalam maka yang terjadi adalah jarak antara agama dan kemanusiaan, dengan pemahaman bahwa "biarkan agama mengurusi Tuhan-nya, dan manusia yang berkehendak bebas mengurusi dirinya sendiri tanpa payung dan peran agama". Seharusnya, tidaklah demikian karena senyatanya -- dengan melihat pada beberapa bentuk pemahaman ajaran Islam yang humanis, jika kita mau bersikap kritis dan konstruktif pada dasarnya agama dan humanisme (ajaran kemanusiaan) bisa didialogkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Humanisme Islam &lt;br /&gt;Ajaran "humanisme universal" adalah wilayah historis yang menyangkut kesejarahan umat manusia di mana hak-haknya sering "dipasung" oleh realitas pengamalan ajaran agama --yang tidak humanis tentunya-- dan juga karena modernitas yang menggerus kepekaan kemanusiaan global. Ajaran humanisme memang muncul bersamaan dengan "rasionalisme" pada Abad Pertengahan, tapi ketika itu agama terkesan disisihkan dari ring wacana pencerahan modernisme. Sudah sejak lama ajaran humanisme terlepas dari agama karena dalam pandangan kaum humanis agama justru menyebabkan petaka kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Feuerbach melabeli ajarannya dengan "Humanisme Ateis", humanisme yang berlawanan dengan Tuhan dan agama.&lt;br /&gt;Lantas, apakah mungkin membangun sebuah konsep "Humanisme Islam" sebagai jalan untuk mendamaikan agama dan kemanusiaan? Penulis mengira hal ini bisa saja dilakukan karena secara konseptual, Islam pun memuat beberapa ajaran kemanusiaan yang belum banyak ditafsirkan secara kontekstual. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dalam kenyataan kehidupan kita sehari-hari, banyak juga terlihat orang-orang beragama yang masih memiliki kepekaan sosial dan kemanusiaan yang sangat itu, di mana hal demikian diilhami oleh ajaran Islam. Humanisme Islam berangkat dari realitas sosial dan kondisi empirik umat manusia, dan agama kemudian ditafsirkan secara kontekstual menurut kenyataan yang ada ini, sehingga terjadi proses "dialogisasi" antara teks dan realitas, antara normativitas dan historisitas. Dengan begitu ruang bagi pemenuhan kemanusiaan bisa terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Kuntowijoyo (1991), Islam adalah sebuah humanisme, yaitu agama yang sangat mementingkan manusia sebagai tujuan sentral. Beragama adalah untuk manusia juga, di samping kita melakukannya untuk memenuhi kewajiban ritual agama dari Tuhan. Fungsi transformasi agama akan membuka ruang bagi kemanusiaan yang disebabkan karena pemenuhan ajaran keislaman pada sisi pengamalan dan aksi sosial. Beriman tidak lepas dari beramal, dan ukuran keberimanan seseorang adalah sejauh mana dia mampu mengamalkan ajaran agama untuk hidup dan manusia. Usaha mentransformasikan agama menjadi kebutuhan kemanusiaan saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya agama punya peran untuk memberikan sumbangan bagi penegakan moralitas, hukum, keadilan, dan kemanusiaan. Agama di sini kemudian dipahami secara empirik bahwa ketika terjadi tindakan yang tidak manusiawi, maka agama dapat memberikan dorongan moral-substantif bahwa kenyataan demikian tidak dapat dibenarkan menurut agama. Lalu, kemungkinan memperbarui penafsiran Islam yang disesuaikan dengan konteks kemanusiaan yang bergulat menjadi perlu untuk dilakukan. Tafsiran Islam yang humanis lebih melihat kenyataan sosial daripada hanya terbelenggu oleh ajaran ideal dan normatif agama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk melihat kenyataan sosial itu, maka penafsiran Islam yang humanis perlu didekati dengan pendekatan rasional. Islam tidaklah bertolak belakang dengan pendekatan rasionalisme karena agama ini bisa dipahami secara kritis dan filosofis. Ibnu Rusyd pernah berusaha untuk mendamaikan antara filsafat dan agama. Beliau menganjurkan untuk menggunakan filsafat dalam memahami agama karena pendekatan ini sangat membantu dalam memahami agama. Celah-celah kemanusiaan bisa ditangkap dengan rasio dan akal budi manusia yang kemudian didialogkan dengan agama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama kemanusiaan &lt;br /&gt;Islam perlu dipahami secara kreatif bahwa ada dialektika antara Tuhan, manusia, dan alam. Kehidupan ini sangat terbuka sekali bagi cita-cita pencapaian kemajuan, kemanusiaan, dan keadilan, sehingga Islam bisa dipahami secara rasional dan humanis. Ketuhanan dan kemanusiaan adalah dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan karena menjadi bagian inheren dalam diri seorang muslim sejati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang muslim, dalam keberagamaannya secara berproses terus-menerus mencari hubungan yang dinamis antara bagaimana memenuhi kebaikan (kesalehan) bagi Tuhan, manusia, dan juga lingkungan alam semesta. Ukuran yang bisa dipakai adalah aspek kemaslahatan dalam ketiganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aspek kemanfaatan (al-maslahah) dalam hukum dan ajaran agama menjadi tujuan diberlakukannya sebuah bunyi teks ayat (Alquran dan hadis). Relevansi hukum agama sangat ditentukan sejauh mana agama itu merespon kenyataan dan kebutuhan manusia yang sedang terjadi. Perubahan hukum dalam Islam menjadi mungkin jika kenyataan faktualnya yang menjadi kebutuhan dan kemanfaatan bagi cita-cita kemanusiaan mengalami perubahan, alias berevolusi. Bukankah adanya hukum yang dibungkus melalui teks adalah untuk merekam kenyataan sosial yang terjadi? Dan jika kenyataannya berubah maka hukum dan penafsirannya pun bisa berubah. Artinya, hukum dan penafsiran agama itu sangat dinamis sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk membuka ruang bagi kemungkinan penerapan kemanusiaan dalam Islam, maka di samping melihatnya pada sisi historisitas, kita perlu memahaminya secara humanis. Penafsiran yang humanis itu adalah penafsiran yang lebih memperhatikan aspek kemaslahatan. Akan sulit sekali diterapkan apabila ternyata hukum-hukum yang terbungkus dalam teks keagamaan cenderung membuka ruang bagi pengekangan kebebasan dan kebutuhan manusia. Kalau ukurannya adalah demi kebutuhan manusia, maka agama bisa dikehendaki secara sosial. Tidak lagi terbelenggu oleh kekakuan teologis dan normativitas ajaran fikih Islam yang belum di-up date menurut kenyataan umat manusia hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah saatnya kita berusaha untuk melakukan keterbukaan dalam menghubungkan antara makna agama secara normatif dengan realitas sosial yang sedang dialami manusia saat ini. Kemungkinan perubahan makna dan ajaran agama bisa dimaklumi karena sebuah ajaran tidak bisa terlepas dari konteks historisnya. Kemanusiaan adalah bagian dari sejarah umat manusia yang sedang terjadi dan terus-menerus berproses, entah mengayun pada kemanusiaan itu sendiri atau justru malah sebaliknya. Maka, pada dasarnya kemanusiaan itu bisa didialogkan dengan agama (baca: Islam). Kemanusiaan dan keadilan menjadi kebutuhan manusia sepanjang sejarahnya sehingga peran Islam dan humanisme menjadi sama-sama signifikan. Wallahu a'lam bish-shawab.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5909392-106553267253230629?l=arep.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5909392/posts/default/106553267253230629'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5909392/posts/default/106553267253230629'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arep.blogspot.com/2003_10_01_archive.html#106553267253230629' title=''/><author><name>nurk</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry></feed>
